Thursday, December 5, 2013

When The Rain Stops..


This story is especially presented for my dearest :) I love rain, just like I love you :)

When The Rain Stops...
By : Evri Pratama Zoni


-I love it when it’s rain. but, Raindrop is a part of our memory right? :) E-L


When the rain starts to pour...
Kalau dilihat dari jauh pasti orang orang di sekitar mereka menganggap adegan itu sangat so sweet. Si cowok menyerahkan helm sepedanya pada si cewek dan si cewek sambil ketawa akan bertanya “terus kamu gimana? Kamu yang bakal kehujanan kan?” dan si cowok balas menjawab hangat “gak apa, asal kamu nya sehat, hujan deras pun aku tempuh”

Tapi sayang, kalau dilihat memakai teropong terus dikasih speaker, maka pembicaraan semanis itu gak akan pernah terdengar.

“Ergi! Aku gak cocok tau make make helm beginian!” Alin lagi lagi melepaskan helm sepeda biru yang sudah melekat di kepalanya itu. Dipandangnya cowok tinggi di sebelahnya dengan dahi berkerut tak terima.

Sementara Ergi hanya mengedikkan dua bahunya acuh membuat Alin menghela nafas frustasi. Kehabisan ide dan juga kata kata.

“terserah, kalau gitu kita gak usah pulang aja”

Kalimat santai yang sebenarnya ancaman itu sukses membuat Alin diam seribu bahasa. Hari sudah mulai gelap, namun cuaca sore menjelang magrib itu memang sangat tidak bersahabat. Hujan yang lumayan lebat semenjak jam 4 tadi sukses menahan rencana pulang-ke-rumah- dengan-selamat yang sudah Alin ancang ancang selama perjalanan bersepedanya.

Ditambah lagi harus memenuhi syarat memakai helm sepeda biru milik Ergi selama perjalanan pulang. Menyebalkan. Huh -_-

“tapi lihat, rambutku ke tahan, helmnya jadi gak bisa masuk!” Alin masih bersikeras padahal sebenarnya kalau ikatan rambutnya di rendahkan sedikit helmnya akan langsung pas dengan kepalanya.

Tapi Ergi tidak peduli “yasudah, kita disini aja sampai malam” dan untuk kesekian kalinya argument cewek itu sia sia.

Alin mendengus sementara Ergi tersenyum kecil.

“huh, aku pikir ini nge-date tapi..”

“apa?”

DEG. Mampus.

Dengan gugup Alin menggeleng geleng cepat menyesali aksi bodohnya. Tidak, Ergi tidak boleh mendengar gerutuannya sebentar ini! Tidak! Ayo Alin berpikir! Berpikir!

“ng.. dasar pemaksa”

“huh?” Ergi masih tampak tidak mendengar pernyataan yang barusaja dilontarkan oleh Alin.

“Argh! Sudahlah ayo jalan!” akhirnya dengan berat hati helm itu terpasang di kepala Alin. Alin mengerucutkan bibirnya, ia menoleh tajam pada Ergi. Dalam hati ia sedikit bersyukur suara jumbonya yang biasanya sangat menggelegar bisa sedikit teredam oleh bunyi hujan jadi cowok itu tak bisa mendengar jelas kata katanya. Tak terbayang apa reaksi cowok itu saat Alin baru saja mengatakan apa yang mereka lakukan sore itu adalah nge-date.

“puas?”

Cowok beralmond hitam yang tajam sekaligus mempesona itu tertawa kecil lalu mengacungkan jempolnya yang dibalas Alin dengan kembali mendengus. Dengan sedikit kasar ia menjalankan sepedanya mendahului Ergi. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun dan terus mengayuh sepedanya lurus. Ngambek.

“ye yang ngambek ni…” Ergi tiba tiba saja sudah menjalankan sepedanya berdampingan dengan sepeda Alin yang langsung membuat gadis itu terpekik.

“ei! Jangan tiba tiba nongol dong!” kesal, Alin menjalankan sepedanya lebih cepat tapi tetap saja bisa disusul oleh Ergi.

“Ergi! Duluan aja deh kalau gitu!” Alin membiarkan Ergi mendahuluinya. Tak urung, sikap Alin yang berubah drastis membuat cowok itu bingung, ia menoleh ke belakang dan memergoki Alin menatap punggungnya. Ia memberikan senyum manisnya tapi gadis itu malah memalingkan wajahnya kearah lain.

Bukan hanya itu, berkali kali ia memergoki Alin mengerucutkan bibirnya, menggembungkan pipinya, menyeringitkan dahinya dan semua perilaku yang memperjelas bahwa gadis itu sedang tidak dalam mood yang baik. Apa mungkin hanya karena ia memaksa Alin memakai helmnya gadis itu jadi semarah ini? Tapi masa sih?

Hujan makin lebat, baik baju Alin ataupun baju Ergi sudah basah kuyub dibuatnya. Perjalanan terasa panjang karena keduanya diselimuti keheningan. Alin masih tampak tidak ingin mengatakan apapun sementara Ergi menjadi tak enak mengajak Alin berbicara, tak tau harus mulai darimana lagi.

Tapi tidak mungkin juga ia membiarkan gadis itu terus diam kan?

“hei hari ini padahal aku ingin mengatakan sesuatu padamu” Ergi berujar lembut memberanikan diri. Ia tak ingin berlama lama berada di keadaan seperti ini dan tanpa Alin sadari sepeda cowok itu sudah berjalan beriringan dengan sepedanya. Alin diam, entah kenapa gengsinya masih berada di level paling tinggi membuatnya hanya memandang lurus jalan.

“apa?” akhirnya Alin balik merespon agak malas.

Ergi tidak langsung menjawab, kepalanya mendongkak memandang langit yang keabuan. Rintikan hujan mau tak mau langsung menyambut wajahnya. Air hujan mengalir disekitar wajah cowok itu. Alin yang melihat itu  entah kenapa  tersihir untuk beberapa detik.

“tapi karena hujan tidak jadi deh, hehe”

DEG.

Tidak! Ergi salah! Ergi seharusnya tidak boleh begitu! Alin paling benci digantung. Dan benar saja seketika raut wajah Alin kembali menghitam murung. Gadis itu sudah terlanjur marah  dan sekarang perasaannya semakin tak karuan. Antara penasaran dan kesal. Ergi? Entahlah mungkin cowok itu tidak begitu peka.

“kalau mau bilang ya bilang aja” tanpa sadar Alin mengutarakan isi hatinya yang mungkin hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Suaranya pelan seperti tidak ingin Ergi tau ia baru saja kecewa.

Ya, gadis itu pikir hari ini, di sore yang walaupun hujan ia bisa mendengar apa saja yang dirasakan Ergi terhadapnya. Sore ini akan menjadi sore terindah yang akan ia kenang diantara semua sore yang pernah ia jalani. Sore dimana ia berharap bahwa selama 7 bulan mereka dekat Ergi benar benar akan mengatakan ia menyukai Alin dan tidak ingin hubungan mereka akan terus di awang awang.

Tapi tidak. Tidak ada yang terjadi. Ergi tidak melakukan apapun. Mereka tetap bercanda dan bercanda. Alin lelah, entah kenapa perasaannya jadi aneh.

Mungkinkah pada akhirnya semua itu hanya harapannya belaka? Bahkan hujan yang semakin lebat seperti sedang mengejeknya saja.

“oh…” akhirnya Alin mengeraskan suaranya menoleh pada Ergi dengan senyuman tipisnya. Ergi balas tersenyum. Dua senyum yang berbeda makna. Senyum Alin untuk menyemangati dirinya sendiri menutupi kenyataan bahwa ia barusaja patah hati.

Rumah putih itu sudah kelihatan dari jauh dan entah kenapa kayuhan pada pedal sepeda Alin terasa berat. Itu rumahnya. Sementara Ergi masih setia memimpin perjalanan mereka. Gadis itu entah kenapa jadi panik sendiri.

Setelah ia sampai di rumah Alin sadar ia benar benar harus membuat keputusan. Tetap pada Ergi atau meninggalkan cowok itu. 2 kenyataan menyakitkan itu membuat kepala Alin pusing. Ia ingin selalu seperti ini, dekat dengan cowok itu tapi.. tanpa status? Itu akan menyiksanya. Tak ada alasan nantinya jika ia cemburu atau menahan cowok itu untuk suka pada orang lain. Ia takut jika ada orang lain yang bisa membahagiakan Ergi lebih dari dirinya. Tapi tanpa ada kejelasan?  Ketakutannya tak ada artinya. Ia tidak berhak melakukan semua itu. Sebagai cewek pun ia tidak berani mengutarakan perasaannya duluan. Tidak.

Dan pilihan kedua, meninggalkan cowok itu? Jujur saja ia belum siap, ia sudah terlanjur nyaman dan terbiasa dengan Ergi.  Ergi yang mengisi hari harinya. Ia belum bisa melepas cowok itu secepat ini meskipun harus. Memaksakan perasaan itu sulit.

Argh. Alin sadar betapa cinta itu memang harus tegas. Ya, cewek itu yang harus tegas jika memang Ergi belum menegaskannya.

“sudah sampai..”

Suara Ergi yang bass pecah membuyarkan lamunan Alin. Meskipun tampak tenang, hati gadis itu mulai bergemuruh hebat. Dengan hati hati ia memandang wajah Ergi.

“kenapa?”

DEG

Lagi lagi senyum itu. Bahkan perasaannya tersentuh semudah ini hanya karena senyum Ergi bagaimana nantinya jika ia berniat pergi?

“ng..anu”

Ergi terus memperhatikan Alin yang seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.

“ng.. anu.. itu..”

Ergi menunggu dengan sabar. Sementara gadis di depannya malah terlihat salah tingkah. Alin menggenggam kuat kedua tangannya. Mulutnya sudah terbuka tapi tak ada satupun kata kata yang mampu keluar. Hanya dentuman jantungnya yang tidak beraturan yang semakin menyuara keras di dalam dadanya.

1 detik

2 detik

3 detik

Alin menghela nafas panjang. Sia sia. Ia tidak bisa.

“ah, lupakan!” Alin menyerah lalu berusaha melepaskan pengait helm sepeda milik Ergi. Ia kesal pada dirinya sendiri. Saking kesalnya pengait helm itu malah tak bisa lepas. Oh? bahkan helm ini tak mau mendengarnya? Alin menariknya sedikit keras

Tapi tiba tiba, diluar apa yang pernah Alin bayangkan, sesuatu yang hangat menahan tangannya,

Dan sebuah tangan lain yang lembut dan sama hangatnya kini terarah pada dagunya. Alin terhenyak.

Dag.Dig.Dug.

“sudah lin, jangan dipaksa”

Dag.Dig.Dug. Suara jantung Alin sangat keras dan cepat. Alin tidak berhenti berusaha menenangkan dirinya sendiri.

‘Apa yang ia lakukan padaku?’

Sementara cowok itu dengan pelan dan hati hati melepaskan pengait helm biru itu dari dagu Alin.  Lalu dengan sama lembutnya ia mengangkat helm itu hingga terlepas dari kepala gadis itu. Setelah berhasil Ergi tersenyum simpul, Alin menatap Ergi tidak percaya. Untuk pertama kalinya tidak ada yang pernah membuat Alin terkejut dan mematung begitu hebatnya selain orang yang membantunya melepas helm sepeda dari kepalanya ini. Sangat gentle dan manis. Jadi ini yang namanya waktu serasa berhenti dan dunia seakan jadi milik berdua?

“maaf aku memaksamu memakainya, ini juga demi kebaikanmu lin” Ergi memukul mukul helm sepedanya yang kini ada di genggamannya. Tapi cewek di depannya masih mematung.

“oh iya.. jika memang tidak bisa dikatakan sekarang tak apa, tak usah dipaksa. Semua ada waktunya kan?”

Alin masih tidak tau akan berkata apa. Ia hanya memandang cowok itu, perasaan mereka barusaja bertengkar sepanjang perjalanan dan sekarang scene mereka berganti menjadi scene teromantis yang pernah ada.

“semua bakal indah pada waktunya”

Deg.

Kata kata itu.

Ujung bibir Alin tertarik hingga membentuk sebuah senyuman. Gadis itu tersadar. Ergi lega setidaknya ini pertama kalinya Alin tersenyum setulus itu semenjak tadi.

“gitu dong, kan cantik. Jelek tau daritadi manyun manyun mulu”

Alin reflek memukul lengan Ergi pelan, membuat Ergi tertawa kecil.

“yasudah sana pulang, daripada hujannya entar lebat lagi” Alin memandang awan yang sudah gelap, dan untungnya hujan entah kenapa tidak selebat tadi turunnya bahkan nayris hanya berupa rintikan kecil.

Ergi mengangguk kecil, lalu mulai menaiki sepedanya. Alin? Ya gadis itu terus memperhatikan cowok yang ia sukai itu. Ada perasaan bersalah karena sudah berniat pergi dari ergi, rintikan hujan yang lebat, helm sepeda biru itu sudah menjadi saksi penuh bagaimana Ergi memperhatikannya begitu tulus. Dan kata kata Ergi. Memang mungkin ia harus menunggu lebih sabar. Semua akan lebih indah pada waktu yang tepat. Alin percaya itu.

Bahkan pertengkaran hatinya selama hujan lebat pun usai, seiring dengan keputusan hatinya untuk menetap pada Ergi. Ya, hujan pun akan berhenti di waktu yang tepat bukan?

-|-|-|-

“aku lagi ke dokter”

“besok lah ya aku kasih tau sakit apa”

Alin menggeram, membaca sms semalam dari ergi membuat gadis itu jadi penasaran setengah mati. Cowok itu memang hobi sekali membuat perasaannya jadi tak karuan.

Separah apa sakit ergi sampai ia tidak boleh langsung tau? Apa karena hujan hujanan dua hari yang lalu? Atau sakit lain yang lebih parah? Ah! Alin ingin tau!

Tapi apa daya, hari ini ergi sama sekali tidak menghubunginya. Tidak untuk mengatakan ia sakit apa, atau sekedar menanyakan dia sudah pulang atau belum. Dan fakta itu semakin membuat alin kehilangan arah. Gadis itu cemas, ya, tapi terlalu malu untuk mengungkapkannya.

Sms? tidak? Sms? tidak? Sms? tidak?

Argh, Alin memasukkan hpnya ke dalam saku. Ia sudah tidak ingin berperang dengan hatinya lagi. Jika memang ergi cowok ergi tidak akan melupakan janjinya begitu saja bukan? Setidaknya itulah yang diharapkan Alin.

Gadis itu mulai melangkah keluar dari kelasnya, ia sedikit menyesal karena membiarkan sahabatnya, ayu pulang duluan kalau pada akhirnya siang yang mulai mendung itu harus ia tempuh sendiri.

TES TES

Oh tidak, sepertinya hujan akan bermurah hati menemani perjalanan pulangnya hari ini.

Ah, kalau begitu apa lagi yang ia butuhkan? Payung!

Alin berhenti berjalan lalu mengacak ngacak tasnya, beberapa detik kemudian helaan nafas kecewa terdengar. Tapi Alin tidak menyerah, ia mengamati tasnya sekali lagi bahkan meraba rabanya sampai pada saku kecil di samping tasnya. Seolah olah payung bisa muat disana, tapi hasilnya nihil, payung tetap tak bisa ditemukan. Dan itu bencana nasional bagi alin.

Ah, sial sial sial. Apa perlu ia mengambil daun lebar sebagai pelindungnya dari hujan seperti di drama drama? Atau ber hujan hujanan di bawah hujan lebat seperti orang patah hati?

Imajinasi Alin memang terlalu liar -_-

Dengan perasaan kesal Alin mempercepat langkahnya meninggalkan semua khayalan khayalanya. Bodoh amat dengan gerimis yang mulai membasahi tubuhnya. Gadis itu tidak peduli lagi ia hanya ingin cepat sampai di rumah. Makan dan tidur. Cukup se sederhana itu.

“huh, seandainya aku tidak menunggumu aku tidak akan kehujanan seperti ini, seandainya kau mengatakan langsung kamu sakit apa mungkin aku tidak akan mengkhawatirkanmu separah ini, apa susahnya sih? seandainya— eh?”

Gadis itu tak berhenti menggerutu sampai tiba tiba hujan tidak lagi dirasa membasahi tubuhnya. Alin celingak celinguk bingung. Aneh, dan lebih aneh lagi saat ia memandang ke depan, rintikan hujan yang mulai lebat masih turun membasahi tanah. Alin menerka nerka apa yang terjadi dan mendongkak,

Astaga! ia hampir saja terperanjat!

Bukannya langit yang ia lihat, tapi…

Wajah itu, tinggi itu, rambut botak itu, almond hitam itu,

“seandainya aku melakukan semua itu, kita gak akan berpayung berdua kayak ini”

Dan suara itu! Jangan bilang…

“ergi?!” alin menatap horror pada ergi. Hei, Sejak kapan cowok itu berdiri di sebelahnya!

Sementara ergi hanya memasang wajah polosnya. oh good~ master of poker face is in action.

“apa yang kau lakukan disini?!”

“memayungi kita”

Huh? Reflek Mata Alin bergerak menatap cowok itu mulai dari bawah sampai atas dan menemukan benda familiar yang ia butuh kan semenjak tadi. Benda yang memang membuat hujan tidak lagi turun langsung menyerang tubuhnya. Benda yang melindungi mereka sekarang. Payung. Payung berwarna.. pink. -_-

“payung siapa yang kau pinjam?!” pekik alin masih belum selesai dengan keterkejutannya. Dan itu membuat ergi malah tertawa terpingkal pingkal. Dunia alin tiba tiba jadi blank, Sudahlah datang gak bilang bilang kayak hantu sekarang cowok di depannya itu malah tertawa kayak habis ngeliat badut.

Tapi di balik semua keheranan alin terselip kelegaan karena cowok itu sama sekali tidak terlihat sakit. Tanpa sadar kini senyum kecil terukir manis di wajah gadis itu.

Sadar diperhatikan ergi berdehem “hei, senyum senyum sendiri, kenapa melihatku seperti itu?”

Ups, ketahuan. Alin balas beredehem, menyembunyikan kegugupannya. Kini kesadarannya  yang sempat melayang beberapa saat lalu sudah terkumpul sepenuhnya dengan sedikit ketus Alin langsung bertanya “GR! Dan eh, seharusnya aku yang bertanya! Sakit apa kamu?”

Ergi tidak menjawab melainkan tersenyum. Senyum yang sulit diartikan bagi Alin.

“ih, kamu gak kayak orang sakit tau! tadi tiba tiba aja datang, sempat sempatnya ngegombal, terus ketawa terbahak bahak, sekarang malah senyum senyum gak jelas. oh oh Ergi?! jangan.. jangan bilang kamu mulai gak waras!”

Tangan Alin terangkat berniat menyentuh dahi ergi memastikan bahwa suhu tubuh cowok itu normal tapi tangannya otomatis berhenti di udara. Ia barusaja berlaku sangat konyol dan sekaligus memperjelas bahwa ia sangat mencemaskan Ergi. Alin benar benar malu dan langsung menunduk dalam dalam.

Meskipun Alin menyembunyikan wajahnya tapi senyum ergi masih belum hilang. Sungguh, ia tidak mengharapkan Alin akan merawatnya atau memberinya perhatian lebih saat sakit tapi mengetahui gadis yang ia sukai memperhatikannya diam diam siapa yang tidak akan bahagia kan?

“tenang, cuma sakit pencernaan kok”

Jawaban yang terdengar ringan itu sukses membuat Alin kembali mengangkat kepalanya. ‘Cuma’? Apa katanya? “hah? Pasti karna kamu suka telat makan! Ergi, selalu deh, aku tu-”

Alin segera menutup mulut. Cukup! kenapa sih ia tidak bisa bereaksi biasa biasa aja? jangan memperjelas perasaanmu ke permukaan dong -_-

“sudahlah!” dengan segera gadis itu membuang pandangannya ke gedung sekolah lainnya. Dan ia baru sadar jika sekolahnya itu masih ramai. Alin terbelalak saat di seberang melihat dilla dan della duo penyebar gossip di sekolahnya sedang duduk santai asyik menontonnya mungkin semenjak tadi. Dilla dan della melambai jahil pada Alin yang membuat gadis itu berteriak panik dalam hati. Tidak! Ancaman datang!

Ia kembali menoleh pada ergi bermaksud memberitahukan itu dan pandangan mereka bertemu,

DEG. ada desiran aneh saat alin menatap almond milik ergi, membuat gadis itu tak tahan menatapnya lama lama, ia ingin mengatakan sesuatu tapi

Tangan Ergi yang segera menepuk nepuk kecil puncak kepalanya seketika menghilangkan semua kata kata yang sudah ia siapkan. Alin membeku namun pipinya malah menghangat dan ia yakin semburat pink kini tengah menghiasi wajahnya. Oh Tuhan… cowok ini…

“makasih telah mengkhawatirkanku lin” ujar ergi tulus.

Alin diam. Selalu mematung seperti ini di kala ergi berhasil mengejutkan hatinya.

“yaah, hujannya udah berhenti ya? jadi gak bisa lagi dong berpayung berdua”

“huh?”

Kalimat ergi sukses membuat satu alis alin terangkat. Cowok di sampingnya tertawa kecil. membangunkan saraf saraf alin. Dan juga mencairkan suasana.

“gombal” alin menjulurkan lidahnya.

“tapi kamu suka kan?” sambil menutup payungnya ergi menatap alin jahil.

Alin diam saja dan segera berjalan ke bangku keramik di depan salah satu kelas di sebelah UKS. ia malas menjawab pertanyaan ergi meski ia tau itu hanya candaan belaka. Tetap saja hatinya tak karuan saat mendengarnya. Dan lagi disini cukup aman untuk berbicara, daripada di tengah lapangan tadi.

“huh, kenapa sih cuma bilang kamu sakit pencernaan aja gak bisa lewat sms aja?” alin bertanya pertanyaan yang memang seharusnya ia ajukan sejak tadi. “kenapa harus sekarang? kan cuma bilang itu aja”

ergi sedikit berdehem sebelum menjawab

“soalnya bukan cuma itu aja yang mau aku bilang”

Untuk pertama kalinya cowok yang memilih berjongkok di depannya ini terlihat aneh. Ergi yang hobi membuat kesal ini entah kenapa terlihat… gugup?

“oh? mau bilang apalagi emang?” tanya alin penasaran.

Ergi menunduk sebelum memberanikan diri untuk menatap lekat mata Alin. Pandangan keduanya bertemu lagi dan membuat sensasi aneh yang menyenangkan bagi ergi maupun alin. Tapi alin langsung menghindari pandangannya dengan menunduk. Ia takut, ia takut ergi bisa lihat bagaimana cara pandang Alin padanya berbeda. ia takut, perasaan terlalu jelas.

dag.dig.dug

“kan, kamu tau aku ‘itu’ sama kamu…”

itu?

“ng.. kamu juga pernah bilang ‘itu’ juga sama aku…”

itu?

Alin menyeringitkan dahinya. Itu? itu apa yang sedang ergi bicarakan sekarang?

Tapi saat menatap almond indah milik ergi Alin sadar.  itu? jangan bilang itu yang barusan ergi bilang artinya… suka?

Sekarang entah kenapa alin jadi ikut ikutan gugup. Meskipun telat sadarnya tapi alin tau kemana arah pembicaraan ini, dan kenyataan itu malah membuat tangan Alin mendingin. Gadis itu mau tak mau jadi gelisah. Aduh, rileks alin… rileks..

dag. dig. dug.

“dan aku gak mau hubungan kita terus ngambang, di awang awang, kamu juga kan lin?”

dad. dig.dug

Alin tidak mampu menjawab dan ergi memang tidak masalah alin menjawab atau tidak. Hati gadis itu tercekat dan entah kekuatan darimana alin tidak lagi mengalihkan pandangannya dari ergi, almond hitam itu berhasil menguasainya.

Nafas cowok itu memburu, ia tau ini saatnya

“ng.. Alin…”

“mau gak.. kamu jadi pacar aku?”

Suasana mendadak hening. Bahkan sisa sisa air hujan yang jatuh dari atap pun bisa terdengar, mungkin juga suara detak jantung dua anak manusia yang kini terdiam hanya karena kata kata tulus yang barusan terucap.

eh? hujan berhenti ya?

Alin membeku lagi. Jantungnya mulai berirama makin cepat apalagi saat ia sadar posisi lutut kaki kanan ergi yang menyentuh lantai. oh astaga~ terlihat seperti orang yang akan melamar saja! belum lagi pipi alin yang langsung memanas membuat wajahnya semerah tomat.

Oh Tuhan.. Ergi barusaja bilang apa? bilang apa? uwaaa~~ ini bukan mimpi kan?

Alin tak bisa menyembunyikan senyumnya yang lantas membuat ergi ikut ikutan tersenyum. cowok itu mengaruk garuk  tengkuknya yang tak gatal meredam kegugupannya. Bagaimanapun ia tak boleh senang dulu, alin belum mengatakan apapun kan?

“jadi gimana?” tanya ergi memandang alin.

Alin ragu sesaat sebelum membalas tatapan ergi “kamu serius gi?”

Tanpa lama lama ergi mengangguk mantap. “serius” ujarnya tegas. almond hitamnya bahkan tidak menyiratkan keraguan sedikitpun.

baiklah, kalau sudah begini….

“ya” jawab alin pelan bahkan nyaris seperti bisikan.

“apa?”

“iya” alin sedikit menaikkan suaranya.

“apa?”

“iya” alin berbicara dengan nada normal.

“apa?”

“ERGI!!!” alin menghentakkan kakinya kesal lalu memandang ergi yang kini malah tersenyum manis. Bukannya ia tidak mendengar, suara paling pelan dari alin saja sudah bisa ia dengar sejak tadi hanya saja mendegar kata ‘iya’ berulang ulang dari gadis itu membuat sensasi melegakan di hati ergi.

“iya apa?”

“maksudmu?” alin tidak mengerti.

“masak iya aja?”

Hening sejenak.

“iyaakumau” alin mengucapkannya cepat tanpa jeda. Membuat ergi tertawa. Menggemaskan sekali.

Hening lagi.

“Makasih ya lin”

Alin mengangguk lalu tersenyum. Gadis itu masih tak menyangka padahal dua hari lalu ia masih berperang dengan hatinya. Malah sempat terpikir akan meninggalkan Ergi tapi sekarang? semua ketidak pastian hubungan mereka sirna sudah. Alin sungguh bahagia akan semua itu.

“sekarang mau pulang?”

“tapi kan hujannya udah mulai turun lagi” alin menatap gerimis yang perlahan mulai jatuh membasahi bumi. Sudah mau hujan lagi rupanya.

Ergi malah tersenyum lalu menarik payung pink yang sejak tadi terabaikan olehnya. menyodorkannya pada alin yang langsung membuat gadis itu terbelalak.

“tenang.. kan ada ini”

“ERGI!!!”

and their new story  begin ;)

THE END

Wednesday, December 4, 2013

my favorite senior high school


Sekolahku oh Sekolah Ku!!!


naaaah, gue kembali lagi dengan membawa sesuatu :D kali ini dengan bahasa KAMPUNG SONO GUE wkwkwkwk, kapan kapan gue bikinin transletnya okeh? :)
 
LET"S CHECK IT OUT!

 (This is My school :))

SMA Negeri 1 Bukittinggi is the oldest high school in the town of Bukittinggi which was established on July 23, 1959. The school is located on the Sheikh M. No. Jambek Jamil. 36 (Lanbouw), Kurai Feed village, and a pilot Bukitinggi internasionalyang standard school began in 2006 and included 5 R-SMA first SMABI Indonesia.Pada In 1957, SMA Negeri 1 Dublin was originally a part of the high school located in Birugo ABC, precisely at the location of SMA Negeri 2 Bukittinggi today. Since tahun1958 location of the school was moved to the Sheikh M. No. Jambek Jamil. 36 (Lanbouw) Bukittinggi, and the structure was completely ready to use on tahun1959.
full review can be read up on :)

History of SMAN I Bukittinggi, as set out in the history of SMAN I Bukittinggi, formerly named SMA Negeri I Bukittinggi, written on the leadership of the Head of School SMAN I Bukittinggi Azwar, outlined, that in the beginning, SMU I Bukittinggi was originally derived from SMA ABC, based in Birugo, (when it was joined by SMAN 2 and SMAN 3 Bukittinggi). ABC SMA itself, actually has been established since the beginning of the era of independence that was pioneered by Dr A Rusma.

----building!

Solid-story building is located along a three-story Sheikh Mohammad Jamil Jambek. Previously the building was impressed scary because it reminds us in a difficult homework, teachers are "inhuman" and friends are not friends. But now the shadow shattered, the building now feels cool because hard times ended beautifully.The building fell limp when hit by an earthquake measuring 6.3 on the Richter scale. Since it was built in 58, the building had not been hit serkuat it.The school is a school favorite. All junior high students put ideals to school there. The legend says that a child who committed suicide only to be turned down in high school 1. The school has been the target of any young children that stimulate their enthusiasm to get the highest score to be accepted in high school one like me.
Long building in Jalan Shaykh Muhammad Jamil Jambek spanning 36 "West To East" was impressed majestic yellow located in a pedestrian street preoccupied. In front of him stood the building Bukittinggi State ST. While on the west side of a building SMEA 1 Bukittinggi. The two three-story building, but the building is dominated SMEA green. East of the junior high school standing behind him while there are 7 Agricultural complex known as "Landbouw" a relic of the Dutch name which means farm.

At first sight the people passing by there is school children dressed in white and gray (school uniforms and SMEA) or white-blue (SMP and STN). In addition, the street is also enlivened by "Amai-amai" (mothers) who want to go to market Aur Tajungkang and mothers Surau Inyiak Jambek recitals. At the intersection between Simpang Desert Landbouw or length to Market Aur Tajungkang not allowed in unless Hansom automobile and rickshaw so that our walk is a daily routine in the streets as far as 70 meters.From a distance the home look spacious. The wind blowing hard hit pine and acacia trees that grow crowded neatly in front of him. I brought you enter the grounds. After the gate "sliding door" is open you will see a building with a solid background of towering water towers. Left side of the road, the grass is allowed to grow lush as absorbing water when it rains. Unlike the high school building in Dublin 2 Birugo the Dutch building has artistic value, our high school building looks more like a giant box roofed. There is also a school called "chicken coop" for architectural design rigidity. Yet our school is the best school and a favorite for children to study there.On the left side of the building that the west stands the library building which is the best school libraries in West Sumatra. At the rear there is a spacious lawn and a basketball court. This is where we were attending the flag ceremony every Monday and exercise basketball once a week. The area was surrounded by other buildings such as laboratories Biology, Chemistry, Physics, and then there is also a language laboratory. Not forgotten in the west there is an additional building for the accommodation of teachers and school canteens.Now I bring you into the building from the west entrance is at the front of the library. East and West doors are connected by a corridor that seemed to divide the building into two wings, namely the right and left. In the room there is left wing teachers. Followed space Principal and Vice Principal, council chamber, chamber UKS (School Health Unit) and a Consulting Professor BP (Guidance Counselling). For the right wing entirely dedicated to learning as much as 3 local space and space Administration.As an alumni of the 1991 SMA 1 Dublin every trace of this room all have memories. At the school that I first felt a pluralistic society with diverse backgrounds such as their country of origin, the base school, race and religion, and of course goals. I tried to address differences in a positive way so that the class can be forged cohesiveness. Moreover, as a class president, I have to play that role well. Imagine a friend from junior high and Tsanawiyah. There is a friend who comes from the coastal areas are like Ekos Son Yunas of the River Dareh, Rudi Harison of Alahan Panjang, Arief Fahmi Lubis Medan child whose father commander in Dublin as well as child Novriandi Court Chief Bukittinggi. The difference in religious background because some former junior Xavier students also continue their education at this school like Alfrina Tompubolon and Raimondus the Christian religion.I would tell any traces that are still remembered. On the right of the hallway wall mounted "Mading" managed OSIS. The board replaced every week. This is where I always put my clippings and writing for publication. His name was young berjinak-tame with life romance, I sent a lot of writing in the form of poetry and diaries. The spirit of my writing worsen after love blossomed with friends seperguruan. Who else if not the poem inscribed on the heart of the heart. Mading were all filled with the language of worship like swara poet. Monday is the day that awaited. With a sense of worry and anxious to imagine the reaction I got a heart as reading poetry and diaries.Classroom atmosphere reminds me of the teachers and companions in arms. In this class I honed leadership. In class I-3 is located on the 1st floor, I believed to be the head of the class after Mochtar Lubis Arief the first 6 months. In the class raised by Isna Biological Mother is also my achievement was the champion 3. In the second year, I majored in Biology in Bio 1 and class II is also believed as the chairman of the Non Asriyeti homeroom mother. Department of Biology and Physics, each consisting of 3 class and we started to go up to the 2nd floor. In the 3rd year, we also class up one floor on the 3rd floor with a homeroom mother Rifda. Arrangement of tables and chairs at our local synagogue arranged as inverted rows where the woman in front of men.The classroom is also reminds me of when I have glasses. Wearing glasses at a young age actually contains much less moral weight and paternal sounded too serious. In the beginning of Grade 1 I chose to sit in the second row from the back. At the beginning of semester 1 Class 2 I can no longer read the writing on the blackboard the teacher. I then offered teachers sit in the front seat so that women are not separate. I do not dismiss the offer especially my friend named Lasdip willing to sit together with me. But soon my friend Paskibra members were moved to the back of the reason men like sleepiness and fear of getting caught the same teacher when he sat in front. I certainly do not stand alone, and finally I had no choice. I immediately check the eye doctor at the hospital Ahmad Mokhtar and apparently I have bad eyes. At that time I had to surrender to wear glasses with a thickness minus 1.This school was built in 1957 as the Central Government contribution to Dublin as the capital of Central Sumatra (now West Sumatra, Riau and Jambi). Around the year 1959, as has been the completion of the new building, eventually building is occupied.At first, I Bukittinggi derived from SMA SMA-based ABC Birugo still join SMAN 2 and SMAN 3 Bukittinggi. ABC SMA itself stood since the early days of independence which was pioneered by Dr. A. Rusma. At the time of the Dutch aggression to-2 around 1949, Dublin was forced to ABC SMA disbanded because most teachers and students fled to the interior. But the Dutch government, the school disbanded the school allows the establishment led by Mr. Jake Dt Sati assisted several teachers who did not evacuate.After the handover of sovereignty in 1949, the ABC SMA Bukittinggi resumed under the leadership of Mr. A Manan St Penghulu. Teachers are a combination of teachers coming from outside (the interior) and settled in Dublin or federal teachers. State high school students generally come from ABC Bukittinggi whole area is in Central Sumatra. A leadership after St Penghulu Manan school leaders followed by M. Nazir St. Mudo who previously was the former Director of State High School B Jogjakarta. During his leadership, the development of State High School students began to increase with the number of 16 pieces entirely local. In fact many students graduate from junior high all over Central Sumatra can not be accommodated at SMA ABC Bukittinggi. After the leadership of M. Nazir St. Mudo, school leadership is followed by Sabirin St Rajo Ameh.After leadership Sabirin St Rajo Ameh, Bukittinggi ABC SMA is divided into two, namely IB SMA and SMA II / AC Bukittinggi. SMA I B led by Bais St. Sinaro whereas SMA II / AC led by Adam Saleh.After Bais St Sinaro, IB SMA Dublin led by Nazir St Rajo Diamond, followed by Muharsono, and Sunariaman Mustofa. Furthermore successively served as principal IB Bukittinggi which later turned into SMAN I Bukittinggi, which subsequently changed its name to SMU I Bukittinggi, among others, Anwar, Drs Muhammad Nasir, Luthan Usman, Amir Omar Dt. Youngest, Drs Rusdi Angry, Drs H Irman Zein, Drs Zulkifli Johneva, and last held by Drs Persalide.Hope High School 1 scored a youth achievement and expectations of the nation. Amen

interview me!!




interview me....!!!

untuk monent ini, gue bakalan ngepost tentang siapa diri gue...
oke untuk tidak memperpanjang muqadimah, gue langsung aja memberikannya dalan bentuk wawancara...


let's check this out....

P  : maaf, apa benar ini narasumber yang akan saya wawancarai ?

N : wawancara dalam rangka apa ya ?

P  : ini saya dari postblogger ingin mengetahui tentang siapa diri anda untuk diberitahu ke seluruh penjuru dunia baik aabang sampao merauk baik nianas sampai pulau rote.

N : saya jadi artis dong?
      wuhuuiii!!! emak aku jadi artis....

P  : hehe, bisa dibilang gitu mas -,- ( pede amat nih bocah )

N : apa? mas? maaf saya ngak setua itu ya --"

P  : lalu saya musti memanggil sampaian siapa?

N : cukup panggil dengan nama dek Erik atau Evri

P  : oh baik dek erik ( ini baru permulaan, sabaar)
       oh iya, bisa saya tau profil dari dek erik apa?

N : mau tau atau mau tau?

P : hehe. itu sama dek.. --" (sabar sabar, jangan sampai buat narasumber kecewa)

N : oh sama ya? saya kirain berbeda.
       baiklah, nama panjang saya Evri Pratama Zoni, saya lahir di Pariaman pada 28 agustus 1997

P  : wah berarti umur dek erik sekarang 16 tahun dong?

N : iya benar

P  : kalau hobi dek erik apa?

N : hobi saya banyak, dari olahraga, akting, belajar, dan dance

P : wah banyak juga ya...
      bisa ngak menunjukkan bakat akting dan nari nya?

N : aduh gmana ya, kyungsoo aja dibayar kalo mau manggung.

P : pelit nya adek ni

N : emang...
      masih mau nanua lagi ngak? saya sibuk nih....

P : eh iya iya dek ( sabar sabar sedikit lagi semua informasi terkumpul)
      kalau profil dari kelurga dek erik apa?

N : keluarga saya terdiri dari papa, mama dan adik saya

P  : bagaimana dengan sekolah dek erik?

N : saya bersekolah di SMAN 1 Bukittinggi sekarang ini saya di kelas XI di IPA 6

P : oh iya, apa rencana dari dek erik dalam mengisi blognya?

N : dalam kesempatan ini, saya ingin mengisi blog saya dengan cerita dan ilmu ilmu apa pun itu

P : oh. baiklah mungkin sekian dulu pertanyaan saya, terima kasih atas informasinya

N : baiya lah hoi... !!! situ main situ main.... !!!


that's all my profil....


mungkin bermamfaat bagi kalian yang ingin mengetahui semua profil gue....